Sukses

Daftar 6 Lagu Daerah Jawa Tengah, Lirik Beserta Maknanya

Liputan6.com, Semarang Indonesia merupakan negara yang kaya akan keragaman budaya dan tradisi. Satu di antara keragaman budaya yang dimiliki Indonesia ialah lagu daerah.

Lagu daerah bisa dibilang mirip lagu kebangsaan, namun statusnya hanya bersifat kedaerahan.

Tidak terkecuali di Jawa Tengah, provinsi ini memiliki sejumlah lagu daerah yang merupakan lantunan yang populer dan dinyanyikan rakyat di Jateng.

Beberapa lagu-lagu daerah yang ada di Jawa Tengah menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Jawa. Penggunaan bahasa lokal tersebut tentu makin menambah keunikan musik khas Jateng.

Lagu daerah yang ada tersebut menjadi identitas sebuah warisan budaya nasional yang harus terus dilestarikan. Itulah mengapa, penting untuk mengetahui lagu daerah yang ada di Indonesia termasuk di Jateng.

Berikut ini daftar lagu daerah dari Jawa Tengah, beserta lirik dan maknya yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

 

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini

2 dari 7 halaman

Gundul Gundul Pacul

Lagu pertama yang tentu tak asing lagi di Jawa Tengah adalah lagu Gundul Gundul Pacul. Lagu ini ditulis oleh Sunan Kalijaga pada sekitar tahun 1400an.

Versi lainnya menyebutkan, lagu ini diciptakan oleh R.C. Hardjosubroto. Namun, pesan yang ingin disampaikan dari lagu ini adalah sama yaitu sebuah sindiran alias teguran kepada para pemimpin.

Tak hanya di Jateng, Gundul Gundul Pacul merupakan salah satu lagu daerah yang paling terkenal di kalangan anak anak seluruh Indonesia. Meskipun lagu ini sekilas terdengar lucu dan jenaka, namun ada makna yang sangat dalam di baliknya.

Berikut lirik lagu daerah Jawa Tengah berjudul Gundul-Gundul Pacul.

 

Gundul-gundul pacul-cul gembelengan

Nyunggi-nyunggi wakul-kul gembelengan

Wakul ngglimpang segane dadi dak ratan

Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan

 

Gundul sendiri memiliki arti kepala tanpa rambut. Ini merupakan sebuah kiasan yang menggambarkan sebuah kepala tanpa mahkota.

Sedangkan pacul atau cangkul adalah sebuah alat yang digunakan oleh para petani untuk bercocok tanam. Pacul ini melambangkan rakyat kecil yang susah dan hidup menderita.

Baris pertama dari lagu ini memiliki arti bahwa para pemimpin bukan hanya sekedar sesosok orang yang menggunakan mahkota di kepala, namun merupakan seseorang yang bisa melihat rakyat yang susah dan bisa membantu mereka agar hidup mereka bisa lebih baik.

Sementara, baris kedua jika diterjemahkan secara harfiah berarti membawa bakul di kepala, sedangkan gembelengan berarti sombong. Kalimat ini memiliki makna pemimpin yang seharusnya bertanggung jawab untuk membawa amanat dari rakyat malah menjadi sombong dan tamak karena merasa memiliki jabatan yang tinggi.

Baris ketiga dari lagu ini bermakna kepercayaan yang semula diberikan oleh rakyat hilang. Sedangkan, segone dadi sak latar yang berarti nasi jatuh berantakan di halaman memiliki makna semuanya menjadi sia sia dan tidak ada gunanya.

3 dari 7 halaman

Suwe Ora Jamu

Lagu berbahasa daerah yang paling dikenal masyarakat umum tak hanya di Jawa Tengah tentunya adalah Suwe Ora Jamu. Lagu ini merupakan lagu anak yang pendek serta memiliki nada yang mudah diingat.

Ternyata, di balik lagu pendek ini ada makna yang sangat menarik. Jika terjemahkan secara bebas, lirik dari lagu ini adalah suwe ora jamu (lama tidak bertemu), jamu godhong telo (jamu daun ketela), suwe ora ketemu (sudah lama tidak bertemu), dan ketemu pisan gawe gelo (sekali bertemu membuat kecewa).

Adapun lagu ini menceritakan tentang sekelompok teman yang sudah lama tidak bertemu dan ketika mereka bertemu kembali, ada kekecewaan yang dirasakan. Lagu ini juga bisa diartikan bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan yang kita inginkan.

Terkadang, apa yang terjadi tidak sesuai ekspektasi kita dan kita sangat kecewa ketika hal tersebut terjadi. Namun, kita tidak boleh terus menerus kecewa karena perasaan tersebut pada akhirnya hanya akan menyebabkan kegagalan. Lagu ini juga mengajarkan bahwa kita harus tetap bangkit lagi walaupun ada sesuatu yang membuat kita jatuh.

Meskipun lagu ini sangat singkat dan artinya pun sederhana, namun kita semua pasti pernah merasakan hal ini dan pernah mengalami situasi yang serupa. Kita bisa terus mengingat makna makna yang terkandung dan bisa belajar banyak hal dari lagu ini.

4 dari 7 halaman

Cublak Cublak Suweng

Cublak cublak suweng

Suwenge ting gelenter

Mambu ketundung gudel

Pak Empong lerak lerek

Sopo ngguyu ndelekakhe

Sir sir pong dele kopong

Sir sir pong dele kopong

 

Demikian penggalan lirik lagu berbahasa daerah Cublak Cublak Suweng. Sama seperti Gundul Gundul Pacul, Cublak Cublak Suweng merupakan lagu anak. Makna yang terkandung pun cukup dalam dan mengajarkan anak tentang makna kehidupan.

Cublak cublak suweng memiliki arti tempat perhiasan atau harta. Harta yang dimaksud di sini adalah kebahagiaan dunia.

Suwenge ting jelenter memiliki arti perhiasan menjadi berantakan. Makna tersirat dibalik kalimat tersebut adalah kebahagiaan yang berantakan. Mambu ketudhung gundel yang artinya bau anak kerbau memiliki arti manusia mencari kebahagiaan kemana-mana, bahkan bisa melakukan hal apapun untuk mendapatkan harta itu.

Pak gempong lera lere berarti bapak tua menengok ke kiri dan ke kanan. Kalimat itu artinya adalah seorang bapak tua yang memiliki harta banyak namun masih terus mencari karena harta tersebut ternyata palsu atau bukan kebahagiaan yang sebenarnya. Baris terakhir dari lagu ini yaitu sir sir pong dele kopong berarti hati kosong tanpa isi.

Melalui lagu ini diajarkan makna bahwa sebaiknya kita tidak mengejar harta duniawi karena apa yang ada di dunia ini tidaklah kekal. Lagu ini juga memiliki pesan bahwa jika kita ingin mempunyai kebahagiaan yang kekal (cublak suweng), kita tidak perlu terus mengikuti kebahagiaan dunia hingga rela melakukan segala macam hal buruk. Karena kebahagiaan yang sebenarnya akan kita dapatkan jika kita punya hati yang baik.

5 dari 7 halaman

Lir Ilir

Lagu Lir Ilir konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga di awal abad ke-16 saat keruntuhan masa Kerajaan Majapahit dan masuknya agama Islam. Lagu daerah satu ini terkenal sebagai salah satu tembang dolanan atau lagu anak-anak.

Liriknya sendiri memakai kata-kata perumpamaan yang mengandung makna dalam serta multitafsir. Hal tersebut sangat mencerminkan betapa dalamnya ilmu yang dimiliki oleh Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam.

Melalui lagu ini, Sunan Kalijaga mencoba untuk mengajak pada para masyarakat Jawa untuk meyakini, mengimani, dan memeluk agama Islam pelan-pelan. Berikut lirik lagu Lir Ilir.

 

Lir-ilir, lir-ilir

Tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo

Tak sengguh penganten anyar

Cah angon, cah angon

Penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno

Kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro, dodotiro

Kumitir bedah ing pinggir

Dondomono lumatono

Konggo sebo mengko sore

Mumpung padang rembulane

Mumpung padang kalangane

Yo surako, surak hiyo

 

6 dari 7 halaman

Gambang Suling

Lagu daerah yang berikutnya adalah lagu Gambang Suling. Lagu ini merupakan lagu daerah yang menggambarkan kekaguman terhadap satu alat musik tradisional, yaitu suling.

Ki Narto menciptakan lagu satu ini sebagai salah satu ungkapan kekagumannya pada alat musik seruling yang dapat mengeluarkan suara yang sangat indah.

Ki Narto Sabdo memiliki nama asli Soenarto yang adalah seorang putra dari seorang pengrajin sarung keris bernama Partinoyo. Beliau juga seorang seniman musik dan dalang wayang kulit yang cukup legendaris dari Jawa Tengah.

Berikut liriknya.

 

Gambang suling ngumandang swarane

Tulat tulit, kepenak unine

Unine mung nrenyuh ake

Barengan lan kentrung ketipung suling

Sigrak kendangane

 

7 dari 7 halaman

Jangkrik Genggong

Lagu daerah Jawa Tengah terakhir adalah Jangkrik Genggong. Slogan Semarang kaline banjir yang ada pada bagian dari lagu ini seolah sangat populer di kalangan masyarakat Kota Semarang.

Lagu ini semakin populer sebab dinyanyikan oleh legenda Keroncong Indonesia, Waldjinah.

 

Kendal kaline wungu

Ajar kenal karo aku

Lelene mati di gepuk

Gepuk nganggo walesane

 

Suwe ora pethuk

Ati sida remuk

Kepethuk mung suwarane

 

Jangkrik genggong, jangkrik genggong

Luwih becik omong kosong

 

Semarang kaline banjir

Ja sumelang ra dipikir

 

Jangkrik upa saba ning tangga

Malumpat ning tengah jogan

Wis watake priya, jare ngaku setya

Tekan ndalan selewengan

 

Jangkrik genggong, jangkrik genggong

Wani nglirik sepi uwong

 

Yen ngetan bali ngulon

Tiwas edan rak kelakon

 

Yen ngerujak

Ngrujaka nanas

Ojo ditambahi kuweni

 

Kene tiwas nggagas

Awak adhem panas

Jebul ana sing nduweni

 

Jangkrik genggong, jangkrik genggong

Sampun cekap mangsa borong