Sukses

Mengenang 14 Tahun Wafatnya Soeharto, Presiden ke-2 RI yang Masa Kecilnya Diasuh Dukun Bayi

Liputan6.com, Yogyakarta- Mengenang 14 tahun wafatnya Soeharto, presiden ke-2 RI, ada sejumlah kisah soal Soeharto yang belum diketahui rakyat Indonesia. Terutama kisah masa kecil Soeharto.

Museum Soeharto yang berada di Dusun Kemusuk Argomulyo, Sedayu Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta merangkum secara lengkap perjalanan Jenderal Besar Soeharto. Museum ini berdiri di tanah kelahiran Soeharto.

Pada 8 Juni 1921, Soeharto lahir dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah. Jenderal bintang lima ini lahir di sebuah kamar yang sampai saat ini pondasinya masih ada dan dipertahankan.

Saat Soeharto masih sangat kecil, kedua orangtuanya bercerai. Ia pun diasuh oleh seorang dukun bayi di Kemusuk bernama Mbah Kromodiryo.

Dalam buku ‘Hari-Hari Terakhir Jejak Soeharto Setelah Lengser: 1998-2008’, Mbah Kromodiryo mengajari Soeharto segala hal berbau pertanian. Aktivitas-aktivitas ini menjadi favorit Soeharto sepanjang hidupnya.

Bahkan, saat memasuki usia senja ia gemar mencari belut dan ikan.

Setelah berumur 4 tahun, Soeharto diambil oleh ibunya dari Mbah Kromodiryo dan diasuh sendiri oleh ibu Sukirah. Soeharto menempuh Sekolah Rakyat (SR) di Puluhan, Pedes dan Tiwir yang letaknya di sekitar Kemusuk dari 1929 sampai 1931.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Pekerjaan Pertama Soeharto

Setelah itu melanjutkan pendidikan jenjang SMP dan sekolah agama di Wonogiri dan Yogyakarta pada 1935 sampai 1939. Pekerjaan pertama Soeharto setelah selesai sekolah adalah menjadi juru tulis di sebuah bank.

Ketika itu, ia sudah memperlihatkan simpatinya kepada para petani. Soeharto kerap bersepeda untuk menemui petani yang berharap mendapat pinjaman bank.

Karier kemiliteran Soeharto dimulai ketika masuk KNIL dan mengikuti pendidikan dasar militer di Gombong, Jateng  pada 1 Juni 1940. Dari sini lah awal perjalanan Soeharto sampai akhirnya menjadi presiden ke-2 RI dan berkuasa selama 32 tahun.

Ia mundur sebagai presiden pada Mei 1998. Sepuluh tahun kemudian, 27 Januari 2008, Soeharto wafat dan dimakamkan di Astana Giri Bangun Solo, tepat di sebelah makam istrinya, Ibu Tien.