Sukses

Berita Hari Ini : Kisah Toleransi dari Semarang, Serumah 14 Orang dan 3 Agama

Liputan6.com, Semarang - Toleransi antar umat beragama menjadi satu di antara isu paling sensitif di Indonesia. Banyak konflik keagamaan yang terjadi karena mulai lunturnya saling pengertian terhadap suatu keyakinan

Nah, dari Semarang, Jawa Tengah, toleransi itu masih ada dan hebatnya, datang dari rumah petak kecil berukuran 3x4 meter. Rumah yang 'nyelip' di antara bangunan besar di kawasan Pecinan, Semarang, Jawa Tengah ini, menggambarkan betapa kebebasan beragama dipraktikkan dan terasa damai melihatnya.

Nah, pelajaran toleransi ini berasal dari keluarga Nyonya Jongkis, yang tinggal di sana. Di rumah itu tinggal 14 orang. Jongkis dan suaminya yang keturunan Tionghoa beragama Islam.

Sedangkan dua anaknya beragama Kristen dan Buddha, serta cucu-cucu Jongkis yang ikut agama orang tuanya. Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo mengunjungi keluarga Tionghoa itu.

Pada hari raya Imlek 2022, Ganjar bersepeda berkeliling Pecinan. Ia Meninjau ibadah di Kelenteng Tay Kak Sie dan meninjau vaksinasi booster yang digelar Walubi. Setelah itu bersilaturahmi ke rumah warga Tionghoa yang hidup jauh dari berkecukupan.

Keluarga Jongkis, di Jalan Sekolan, Kampung Purwodinatan, menjadi pemberhentian pertama. Saat Ganjar datang, hanya ada Jongkis dan anak serta cucu-cucunya. Gunadi, suami Jongkis sedang bekerja. “Bapak tukang kunci di Jalan Kartini,” tutur perempuan 59 tahun itu.

 

Simak Video di Bawah Ini

2 dari 2 halaman

Tinggal di Pecinan Sejak 1981

Jongkis bercerita, tinggal di Pecinan sejak 1981. Rumah itu peninggalan mertuanya. Ada dua lantai di rumah itu. Bagian atas sama kecil dan sumpeknya dengan lantai bawah.

Jelas untuk tidur harus berbagi. Tiga orang di lantai satu dan empat di lantai dua. “Cucu biasa tidur di rumah tetangga,” katanya.

Semakin lama ngobrol, Ganjar makin kagum. Keluarga itu wujud nyata toleransi dan kerukunan beragama. Setiap tahun, mereka merayakan hari besar tiga agama.

“Tentu soal kelayakan harus ditata, ini kondisi yang butuh di antara kita saling peduli dan membantu. Menarik juga, di rumah ini agamanya banyak, mereka hidup rukun bersama-sama,” komentar Ganjar. (muhammad wahyudi)