Sukses

10 Dampak Covid-19 Varian Omicron Menurut Ahli Mikrobiologi Unsoed

Liputan6.com, Purwokerto - Varian Omicron telah menyumbang jumlah kasus infeksi Covid-19 yang signifikan di banyak negara dunia, termasuk di Indonesia. Oleh karenanya, pemerintah menggalakkan upaya pencegahan penularan Covid-19 melalui penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Di sisi lain, masyarakat harus tetap waspada dan mengenali gejalanya agar bisa cepat ditangani jika terinfeksi.

Gejala Omicron yang dominan adalah keluhan infeksi saluran napas bagian atas. Di antaranya batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, lemas. Jika pada varian Delta ada gejala anosmia atau kehilangan penciuman, pada varian Omicron hal tersebut sangat jarang terjadi.

Ahli mikrobiologi klinik dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dr. Nia Krisniawati, Sp.MK berpendapat, mutasi virus berlangsung terus-menerus karena merupakan siklus alamiah virus. Selain itu, melalui keterangan tertulisnya, alumnus Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro ini memaparkan sejumlah dampak varian Omicron.

 

2 dari 3 halaman

Berikut Dampak Omicron

1. Dampak Insidensi Penyakit

Omicron terus menyebar secara global dan telah diidentifikasi di sebagian besar negara di enam wilayah WHO. Secara global, selama pekan 14 hingga 20 Februari 2022, jumlah kasus baru Covid-19 turun 21 persen dibandingkan dengan minggu sebelumnya.

"Jumlah kasus kematian menunjukkan tren menurun (8 persen). Penting untuk dicatat bahwa tren ini mungkin disebabkan karena penurunan tes diagnostik Covid-19 secara keseluruhan yang dipengaruhi oleh perubahan kebijakan di tiap negara," kata anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) ini.

2. Dampak Transmisi (Penularan)

Analisis berdasarkan metode yang digunakan oleh Campbell et al, dan yang berfokus pada negara-negara dengan data whole genome sequencing (WGS) yang diunggah ke GISAID (Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data) pada 18 Februari, menemukan keunggulan tingkat replikasi (pertumbuhan) Omicron dibandingkan Delta di semua negara. Tingkat infeksi berulang dilaporkan lebih tinggi pada Omicron dibandingkan dengan Delta: 13,6 persen vs 10,1 persen di Inggris Raya, dan 31 persen vs 21 persen di Denmark.

Para peneliti di China menemukan bahwa Omicron memiliki tropisme yang lebih tinggi di jaringan bronkus dibandingkan dengan paru-paru. Sedangkan di Inggris, Omicron ditemukan lebih cepat menginfeksi saluran pernapasan bagian atas daripada Delta, dan menghasilkan titer sekitar 100 kali lipat lebih tinggi.

"Dua penelitian yang dilakukan di Afrika Selatan melaporkan Omicron mampu menghindari kekebalan yang diperoleh dari vaksin maupun kekebalan dari infeksi sebelumnya. Hal ini juga bisa menjadi faktor yang berkontribusi pada tingkat pertumbuhan Omicron yang lebih tinggi dibandingkan dengan Delta." tambah anggota tim Litbang IDI Kabupaten Banyumas itu.

3. Dampak Keparahan Penyakit

Hasil analisis dari konsultasi medis dan rawat inap baru-baru ini, terkait dengan tingkat beratnya penyakit, ditemukan bahwa Omicron secara konsisten lebih ringan dibandingkan dengan Delta di seluruh studi yang dilakukan di Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan Afrika Selatan.

4. Dampak Infeksi Berulang

Data awal Omicron pada individu yang sebelumnya terinfeksi SARS-CoV-2 sejak awal pandemi menunjukkan peningkatan jumlah infeksi berulang di Denmark dan Israel. Risiko infeksi berulang lebih tinggi pada Omicron dibandingkan dengan varian SARS-CoV-2 lainnya dengan risiko yang bahkan lebih tinggi, dari data yang dilaporkan di seluruh Inggris.

5. Dampak Vaksinasi

Menurut tenaga medis RSI Purbowangi Gombong ini, hasil studi efektivitas vaksin (VE) sulit untuk ditafsirkan, dan perkiraannya bervariasi tergantung dengan jenis vaksin yang diberikan, jumlah dosis, dan penjadwalan (pemberian berurutan dari vaksin yang berbeda). Studi yang dilakukan di Inggris dan Amerika Serikat melaporkan efektivitas vaksin mencapai 60-75 persen terhadap infeksi simtomatik (bergejala) dengan Omicron.

 

 

3 dari 3 halaman

Apa Saja Dampak Lainnya?

6. Dampak Respons Antibodi dan Imunitas Seluler

Analisis data netralisasi (kemampuan antibodi menetralisir SARS-CoV-2) dari 23 laboratorium menemukan pengurangan 20 kali lipat dalam netralisasi terkait dengan varian Omicron pada individu yang tidak divaksinasi, yang sebelumnya terinfeksi atau individu yang telah menerima dua dosis vaksin. Sedangkan serum dari individu yang divaksinasi dengan infeksi sebelumnya atau individu yang telah menerima tiga dosis vaksin menunjukkan pengurangan kemampuan netralisasi sebanyak tujuh kali lipat.

Respons humoral yang berkurang ini dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi ulang. Sebaliknya, studi tentang imunitas seluler menunjukkan hasil yang baik respons yang dipertahankan (70 - 80 persen dari respons CD4+ dan CD8+) yang dapat dikaitkan dengan penurunan risiko keparahan penyakit.

7. Dampak Tes PCR

Terlepas dari garis keturunan BA.2, semua varian turunan Omicron memiliki delesi asam amino 69-70 dalam gen S (Spike) yang bertanggung jawab atas kegagalan pengenalan target gen-S (SGTF: S Gene Target Failure). Evaluasi tes PCR untuk SARS-CoV-2 yang mencakup beberapa target gen mengungkapkan dampak terbatas untuk mendeteksi varian Omicron pada akurasi tes diagnostik tes ini.

8. Dampak Tes Diagnostik Cepat (Rapid Test)

Data awal menunjukkan hasil yang kontradiktif, di mana beberapa menunjukkan bahwa Ag-RDT (Rapid antigen) memiliki sensitivitas yang sama terhadap Omicron dengan virus tipe liar atau VOC (Varian of Concern) atau varian yang diwaspadai lainnya. Sementara penelitian lain menemukan perbedaan variabilitas dalam kinerja tes ini dan hal ini juga ditemukan pada penelitian terbaru.

9. Dampak Antivirus

Data awal dari beberapa penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan dalam efektivitas agen antivirus terhadap Omicron.

10. Dampak Biologi

Studi tentang efektivitas antibodi monoklonal untuk mengobati pasien dengan Omicron melaporkan bahwa aktivitas penetralan tetap bertahan lama pada tiga antibodi monoklonal (sotrovimab, S2X259 dan S2H97) dan terdapat pengurangan efektivitas antibodi monoklonal lainnya (Planas 2021, VanBlargan 2021, Cameroni 2021, Wilhelm 2021, Roche 2021).