Sukses

Perjalanan Panjang Batik Pekalongan yang Terkenal Menabrak Pakem Batik Kerajaan

Liputan6.com, Pekalongan - Batik Pekalongan atau yang disebut juga sebagai batik pesisiran merupakan jenis batik yang dibuat di luar pakem batik vorstenlanden atau batik kerajaan. Baik batik khas Keraton Surakarta maupun Keraton Yogyakarta.

Dikutip dari berbagai sumber, konon batik Pekalongan muncul  setelah Perang Jawa terjadi. Perang Jawa menyebabkan keluarga kerajaan dan para pengikutnya harus meninggalkan wilayah kerajaan untuk berlindung.

Kemudian, mereka tersebar ke arah timur dan barat. Di daerah baru itu para keluarga kerajaan dan pengikutnya mengembangkan batik.

Ke arah timur, batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya, dan Madura. Sedangkan ke arah barat, batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon, dan Pekalongan.

Seiring perkembangan waktu, batik Pekalongan berkembang pesat dibandingkan daerah lain. Di daerah ini, batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan, serta Wonopringgo.

Motif batik Pekalongan dipengaruhi oleh berbagai bangsa di masa lampau. Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa, seperti China, Belanda, Arab, India, Melayu, dan Jepang pada zaman kolonial turut mewarnai motif dan tata warna seni batik khas Pekalongan.

Tidak heran apabila  beberapa warna jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai alkulturasi budaya, kemudian dikenal identitas batik Pekalongan. Batik Pekalongan dibagi menjadi beberapa jenis, yakni batik jlamprang, batik encim, batik pagi sore, dan batik hokokai.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Ciri Khas Masing-Masing

Setiap jenis batik Pekalongan memiliki ciri khasnya masing-masing. Seperti batik hokokai dikenal juga sebagai batik Jawa hokokai yang tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang di Pekalongan.

Motif batik hokokai berupa lerengan, kembang, dan kupu yang merupakan cerminan alam dari negeri Jepang. Batik Hokokai memiliki penerapan warna yang lebih variatif dan obyek motif yang lebih kecil.

Dibandingkan dengan batik Yogyakarta dan Solo, motif batik hohokai terlihat lebih rumit. Wujud visul batik hokokai terlihat perpaduan yang harmonis dari bentuk-bentuk geometris, yang disusun dengan penataan dua pola yang berbeda dalam selembar kain.

Pola latar batik hokokai adalah pola ceplok, parang, dan lung-lungan. Pola-pola tersebut berasal dari pedalaman keraton. Sedangkan, karakter pewarnaannya sangat cerah, sebagai salah satu ciri khasnya.

Kemudian jenik batik pagi sore khas Pekalongan. Wujud Akulturasi batik pagi sore Pekalongan merupakan hasil kerajinan yang banyak mendapat pengaruh dari budaya luar.

Pada awalnya, akulturasi budaya asing paling menonjol dalam mempengaruhi bentuk pola hias batik pagi sore Pekalongan. Lambat laun, batik pagi sore mendapatkan pengaruh dari budaya lokal.

Batik dari keraton Yogyakarta dan Solo mulai digunakan sebagai latar belakang pada kain batik pagi sore Pekalongan. Pengaruh kepercayaan keagamaan pada batik pagi sore terlihat dari bunga lotus yang dipercaya umat Buddha sebagai tempat duduk dan berdiri para dewa dan dewi.

Selain itu, unsur kepercayaan motif batik pagi sore lebih mengarah pada kepercayaan masyarakat Cina terhadap simbol-simbol. Batik pagi sore dikenali dengan dua motif berbeda pada selembar kain yang dipisahkan dengan sebuah garis.

Garis ini bentuknya ada yang miring dan ada yang lurus. Garis membagi kain menjadi dua bagian yang sama besar. Biasanya, kain batik pagi sore warnanya kontras.

Motif batik jlamprang berbentuk semacam nitik dari Yogyakarta yang disebut juga motif batik geometrik, biasanya berupa lingkaran atau segitiga. Motif batik jlamprang Pekalongan mendapat inspirasi motif batik yang berasal dari pedangan Gujarat, India.

Motif berasal dari kain tenun yang berbahan sutra khas Gujarat yang dibuat dengan teknik ikat dobel atau patola. Kemudian, masyarakat Pekalongan mengadopsi ke dalam motif batik yang serupa dengan motif tenun itu.

Jadi lah, motif jlamprang berupa ceplok yang terdiri dari bentuk bujur sangkar dan persegi panjang yang disusun menyerupai anyaman pada kain tenun patola. Batik jlamprang tampil dengan warna-warna khas Pekalongan yang cerah.

 

3 dari 3 halaman

Pengaruh Cina

Batik encim dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik encim diproduksi secara turun-temurun.

Istilah batik encim muncul dari kebiasaan wanita keturunan Cina di daerah pesisir, seperti Pekalongan, yang sudah bersuami banyak mengenakan kain panjang atau sarong batik dengan motif khas Cina.  Ragam hias dan tata warna yang muncul berselerakan atau berlatar belakang kebudayaan masyarakat Cina.

Dalam perwarnaan, batik encim menggunakan warna-warna yang cenderung merupakan warna-warna family rose. Selain itu, batik juga menggunakan warna khas etnis Cina, seperti merah, biru, maupun kuning.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS