Sukses

4 Masjid Legendaris di Jateng, Ada yang Usianya Lebih dari 800 Tahun

Liputan6.com, Semarang - Banyak masjid-masjid bersejarah yang tersebar diseluruh Nusantara, terlebih di wilayah Jawa Tengah (Jateng). Sebab, perjalanan penyebaran agama Islam di Nusantara cukup lah panjang.

Masjid-masjid legendaris ini menjadi salah satu bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjuangan penyebaran agama Islam di Nusantara. Dikutip dari berbagai sumber, berikut sederet masjid legendaris di Jateng.

1. Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak menjadi salah satu masjid legendaris dan tertua di Indonesia. Masjid ini dulunya merupakan tempat para Wali Songo berkumpul.

Masjid Agung Demak dibangun tahun 1474 dan terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Pendiri masjid ini yaitu Raden Patah yang merupakan raja pertama Kesultanan Demak.

Masjid Agung Demak dibangun dengan gaya khas Majapahit, yang membawa corak kebudayaan Bali. Gaya ini berpadu dengan langgam rumah tradisional Jawa Tengah.

Alkulturasi arsitektur Masjid Agung Demak dengan bangunan Majapahit bisa dilihat dari bentuk atapnya. Tidak ada kubah melengkung yang identik dengan ciri masjid sebagai bangunan Islam.

Atap Majid Agung Demak justru adaptasi dari bangunan peribadatan agama Hindu.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 4 halaman

Masjid Mantingan

2. Masjid Mantingan

Masjid Mantingan merupakan salah satu masjid bersejarah di Indonesia. Masjid ini terletak 5 km dari pusat Kota Jepara, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Mantingan.

Masjid Mantingan dibangun tahun 1559 M pada era Ratu Kalinyamat. Pada zaman dahulu Masjid Mantingan merupakan bangunan yang paling mencolok di antara keramaian pelabuhan, bangunan-bangunan rumah, dan pasar.

Masjid ini memiliki gaya arsitektur yang unik, yaitu perpaduan antara arsitektur budaya Hindu-Buddha, Jawa, dan Tionghoa. Salah satu contoh keunikan arsitektur Masjid Mantingan adalah bentuk atap tumpang dan mustaka yang merupakan akulturasi dari arsitektur era Majapahit dan Tionghoa.

Begitu pula dengan gapura masuk masjid dan bekas petilasan candi yang terletak di dekat masjid. Sejak era kerajaan, Jepara merupakan salah satu pelabuhan paling ramai di pantai utara Jawa.

Bandar dagang ini menjadi tempat bertemunya kaum saudagar dari berbagai negeri, seperti dari Cina, India, atau daerah lainnya. Masjid Mantingan menjadi salah satu simbol kejayaan Jepara pada masa lalu.

Berdasarkan prasasti yang terdapat di atas mihrab masjid, dapat diketahui bahwa masjid ini dibangun pada sekitar 1481 saka atau tahun 1559 masehi.

 

3 dari 4 halaman

Masjid Saka Tunggal Banyumas

3. Masjid Saka Tunggal Banyumas

Masjid Saka Tunggal Baitussalam atau Masjid Saka Tunggal Cikakak di Banyumas merupakan salah satu masjid tertua di Jawa. Masjid Saka Tunggal Baitussalam terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Masjid ini dirintis oleh K.H. Mustholih. Masjid ini terkenal unik lantaran masih banyak monyet liar yang berkeliaran di sekitar masjid.

Masjid Saka Tunggal Banyumas memiliki ciri khas yang membedakannya dengan masjid lainnya. Salah satu keunikan masjid ini ialah memiliki empat helai sayap dari kayu di dalam saka yang melambangkan ”papat kiblat lima pancer” atau empat mata angin serta satu pusat.

K.H. Mustholih berpikir bahwa penting untuk mendirikan pusat dakwah. Maka, ia membangun masjid yang dikenal dengan nama Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai pusat dakwahnya.

Tahun berdirinya masjid ini, terdapat beberapa versi.  Terdapat angka 1288 yang terukir di tiang atau saka tunggal masjid ini.

Jika tahun 1288 merupakan tahun masehi pembangunannya, maka masjid ini lebih tua dari Majapahit, kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara. Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada 1293 Masehi sebagai kelanjutan dari Kerajaan Singasari.

Versi kedua menyatakan, tahun 1288 M sudah didirikan bangunan tempat peribadatan, tetapi saat itu masih digunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu. Baru pada 1522 ketika Islam masuk dibawa oleh K.H. Mustholih ke Desa Cikakak, bangunan itu beralih fungsi menjadi masjid.

 

4 dari 4 halaman

Masjid Menara Kudus

4. Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus menjadi salah satu bangunan masjid tua di Indonesia. Masjid ini dibangun oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan kudus.

Lokasi Masjid Menara Kudus berada di Jalan Menara, Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.  Masjid Menara Kudus dibangun oleh Ja’far Shadiq, atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus.

Nama resmi Masjid Menara Kudus adalah Masjid Al-Aqsa Menara Qudus. Nama Al-Quds yang kemudian diucapkan sebagai Kudus ini dipilih Sunan Kudus untuk mengobati kerinduannya terhadap tanah kelahirannya tersebut.

Pasalnya, Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq dilahirkan di Al-Quds, Palestina sekitar tahun 1500-an. Usia masjid ini disinyalir sudah hampir 500 tahun.

Prasasti yang ada di atas mihrab masjid ini sendiri berangka tahun 956 Hijriah, atau 1549 Masehi. Masjid Menara Kudus masih aktif digunakan untuk beribadah umat Islam, hingga saat ini.

Menara masjid ini cukup ikonik karena menyerupai bangunan candi dan melambangkan akulturasi budaya pada masa itu. Masjid Menara Kudus tergolong berbeda dengan masjid pada umumnya, terutama pada desain arsitektur menara.

Pada masjid kebanyakan, menara dibuat layaknya tugu seperti biasa. Namun, menara masjid peninggalan Sunan Kudus ini didesain seperti bangunan candi. Gaya arsitektur Masjid Menara Kudus secara keseluruhan bergaya tradisi seni Hindu.

Hal ini dapat dilihat pada struktur dan bentuk atap berupa tumpang bersusun tiga. Sementara bangunan menara masjid menyerupai candi Jago, yang merupakan peninggalan Raja Singasari Wishnuwardhana.

Rupanya menara masjid bukan satu-satunya yang menyerupai bangunan candi. Pintu gerbang Masjid Menara Kudus juga didesain menyerupai Candi Belah atau Candi Bentar.