Sukses

Cerita Bung Karno Berpidato hingga Hampir Terbakar

Liputan6.com, Semarang - Soekarno atau Bung Karno terkenal memiliki bakat berpidato, bahkan bakat berpidato Bung Karno muncul sejak usianya masih belia. Bung Karno memiliki ketajaman berpikir, berhasil membuat setiap pidatonya berisikan hal-hal baru yang bahkan belum terpikiran oleh orang lain.

Menjadi hal yang wajar, apabila setiap Soekarno berpidato selalu berhasil menyedot perhatian banyak orang. Bahkan bukan hanya pribumi namun juga para kompeni.

Bung Karno bahkan bisa berpidato di sembarang tempat, saat keinginannya untuk berpidato muncul. Soekarno terkenal tak pernah merasa takut dan resiko saat sedang berpidato.

Dikutip dari berbagai sumber, kepiawaian Bung Karno berpidato membuatnya menjadi populer di kalangan tentara penjajah. Hampir setiap Bung Karno mulai berpidato, tentara-tentara Belanda sudah berjaga-jaga di sekitarnya untuk menghentikan pidato dan menahannya.

Pernah pada suatu hari, Bung Karno melihat banyak tentara Belanda di sekitar mimbar untuk berpidato. Dalam pidatonya, Bung Karno mengatakan bahwa dirinya tahu, tentara Belanda itu diperintahkan untuk menangkapnya jika ia mengecam politik penjajahan Belanda.

Meski begitu, ia tetap saja melancarkan kecaman pedas pada penjajah dalam pidatonya. Tanpa ampun, para tentara Belanda langsung meringkusnya bahkan sebelum pidatonya selesai.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Hasrat Berpidato

Kegemaran Bung Karno berpidato juga pernah menimbulkan cerita unik. Ketika itu, Bung Karno tidak melakukan kegiatan politik, karena memenuhi permintaan gurunya demi pelajarannya di sekolah.

Peristiwa ini terjadi di Bandung, di rumah Inggit tempat ia indekos. Malam itu, tiba-tiba timbul dorongan yang amat kuat dalam diri Bung Karno untuk berpidato.

Bak berhadapan dengan puluhan ribu massa yang bersorak-sorai, Bung Karno berdiri di atas tempat tidur, di samping temannya yang bernama Djoko Asmo. Dengan semangat berapi-api, Bung Karno berpidato.

Mendengar suara berisik, awalnya Djoko Asmo terbangun, tetapi kemudian ia tidur lagi. Jam dua tengah malam, Bung Karno pidato berapi-api sendirian, pendengar satu-satunya yaitu Djoko Asmo, yang sedang asyik tenggelam dalam mimpinya sendiri.

Akhirnya, karena terlalu terbakar semangatnya sendiri yang menyala-nyala, Bung Karno jatuh tertidur karena kelelahan. Beberapa lama kemudian, Bung Karno dan temannya terbangun.

Ternyata, semalam Bung Karno lupa mematikan lampu teplok. Lampu yang menyala sepanjang malam itu menjilat bagian bawah kelambu, hingga hampir semuanya ludes terbakar. Nafas mereka tersekat oleh asap yang memenuhi seluruh kamar.