Sukses

Kisah Nabi Ibrahim Diperintahkan Sembelih Nabi Ismail, Sejarah Ibadah Kurban Iduladha

Liputan6.com, Semarang - Sejarah ibadah kurban Iduladha berawal dari kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah SWT menyembelih anaknya, Nabi Ismail.

Dikisahkan, awalnya Nabi Ibrahim tidak memiliki anak. Ia pun meminta kepada Allah SWT agar diberikan anak yang saleh.

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh,” kata Nabi Ibrahim seperti dalam QS Ash-Shaffat ayat 100.

Doa Nabi Ibrahim oleh Allah SWT dikabulkan. Ia memiliki karunia anak yang saleh dan sangat sabar bernama Nabi Ismail

Saat Nabi Ismail beranjak remaja, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT lewat mimpi untuk menyembelih anaknya. 

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” kata Nabi Ibrahim sebagaimana dikutip dari QS Ash-Shaffat ayat 102. 

“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,” jawab Nabi Ismail.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

2 dari 3 halaman

Diganti dengan Domba Besar

Nabi Ibrahim membaringkan Nabi Ismail. Ia pun bersiap menyembelihnya anaknya sebagai perintah dari Allah SWT.

Ketika Nabi Ibrahim hendak menggerakkan pedangnya, Allah SWT menggantikan tubuh Nabi Ismail dengan seekor domba besar putih bersih dan tidak ada cacatnya. 

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

Arab-latin: Wa fadainâhu bidzib-ḫin ‘adhîm.

Artinya: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Saffat:107) 

Kisah Nabi Ibrahim menyembelih anaknya yang bernama Nabi Ismail menjadi dasar ibadah kurban yang dilakukan pada hari raya Iduladha (10 Dzulhijjah) dan hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah). 

 

3 dari 3 halaman

Sunah Muakadah

Menjalankan ibadah kurban hukumnya sunah muakadah (sunah yang ditekankan). Hal tersebut ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibn Majah.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

Artinya: “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Iduladha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.”