Sukses

Karbala, Saksi Terbunuhnya Husein Cucu Nabi hingga Bikin Takut Saddam Husein

Liputan6.com, Rembang - Mendengar Karbala, mala ingatan umat Islam akan teruju pada sejarah kelam yang terjadi di tempat ini. Karbala menjadi saksi bisu kebiadaban pasukan Khalifah Yazid bin Mu’awiyah membunuh cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali.

Pada masa selanjutnya, Kota Karbala berkembang, namun juga tak luput dari peristiwa-peristiwa berdarah. Pada masa pemerintahan Saddam Husein, Karbala menjadi kota yang terisolasi.

Tetapi, mengingat sejarahnya, kota ini tetap banyak dikunjungi, terutama oleh Muslim Syiah. Hingga masa modern, Kota Karbala menjadi salah satu kota penting di Irak.

Karbala adalah sebuah kota di Irak. Jaraknya sekitar 100 kilometer sebelah barat daya Bagdad. Penduduknya berkisar 600 ribu jiwa pada 2022.

Karbala merupakan ibu kota Provinsi Al Karbala. Mengutip Wikipedia, Karbala merupakan salah satu kota terkaya di Irak. Sumber devisanya berasal dari pengunjung yang beribadah dan produk pangan, terutama kurma.

Secara administratif, Karbala terbagi menjadi dua distrik, yakni Karbala Tua, yang dikenal sebagai pusat agama, dan Karbala Baru, yaitu daerah perumahan di mana terdapat sekolah Islam dan bangunan pemerintah.

Di Karbala Tua, terdapat Mashad al-Husain, yakni makam Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad. Makam Husain adalah tempat ziarah bagi kaum Syiah, terutama pada perayaan mengenang pertempuran Hari Asyura.

Lokasi lain yang dikunjungi kaum Syiah ialah al-Mukhayam. Dahulu tempat ini dipercayai sebagai tempat kamp Husain, di mana keberanian Husain dan pengikutnya diperingati secara umum. Di Karbala, sedikitnya terdapat 100 masjid dan 23 madrasah. Salah satunya milik ulama terkenal, Ibnu Fahid, yang dibangun 440 tahun lalu.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

2 dari 2 halaman

Tragedi Berdarah di Karbala

Nama kota bersejarah ini berasal dari akar etnis Assyria, Babilonia atau Persia. Kemasyhuran Karbala di antara kaum Syiah tak lepas dari peristiwa pertempuran Karbala pada 10 Oktober 680.

Husain dan adiknya Abbas dikubur oleh seseorang dari suku Bani Asad, dan kemudian dikenal dengan nama Mashad al-Husain. Karbala berkembang di sekeliling makam tersebut.

Karbala dan makam itu berkembang pesat karena suksesnya para pemimpin Muslim, tetapi menderita kerusakan akibat diserang tentara. Makam asli dihancurkan oleh Khalifah Bani Abbasiyah al-Mutawakkil tahun 850 namun dibangun kembali tahun 979 lalu terbakar tahun 1086 sebelum dibangun kembali.

Pada 1737 Karbala menggantikan Isfahan di Iran sebagai tempat tujuan utama bagi penerima beasiswa kaum Syiah. Ia mengalami kerusakan yang parah tahun 1801.

Setelah penyerangan itu, syekh asal Karbala mendirikan sebuah negara republik yang berakhir akibat kekuasaan Kesultanan Usmaniyah tahun 1843.

Pembangunan kota Karbala dipengaruhi kuat oleh kaum Persia yang telah lama menjadi mayoritas penduduk. Keluarga Kammuna, saudara Shah Iran, menjadi penjaga makam itu selama bertahun-tahun dan menjadi penguasa Karbala hingga ia jatuh ke tangan Inggris (Britania Raya) pada 1915.

Pengaruh Persia dikurangi dengan sengaja selama pemerintahan Britania Raya. Hingga 1957, jumlah kaum Persia hanyalah 12 persen dari populasi Karbala. Lama-kelamaan mereka membaur dengan populasi Irak dan juga menerima kewarganegaraan Irak.

Hubungan Karbala dengan tradisi agama kaum Syiah ( dan Iran) menimbulkan kecurigaan di pihak pemerintah Irak kaum Sunni. Diketahui hubungan Irak dan Iran buruk selama bertahun-tahun lantaran politik, dan perbedaan aliran agama.

Selama pemerintahan Saddam Hussein, perayaan keagamaan Syiah dilarang dan banyak kaum Syiah non-Irak yang tidak diizinkan mengunjungi Karbala. Bahkan, pada 1991, Karbala rusak parah dan banyak orang tewas ketika sebuah pemberontakan oleh kaum Syiah setempat ditumpas oleh Saddam.

Tragedi berdarah itu bukan satu-satunya. Pasalnya, jauh hari selepas pemerintahan Saddam, serangan bom pada 21 Maret 2004, dikenal dengan Pembunuhan Massal Asyura, menodai ziarah itu walaupun pengamanan ketat diberlakukan di Karbala.