Sukses

Sarat Makna, Ini 6 Anime Produksi Studio Ghibli yang Menyayat Hati

Liputan6.com, Semarang - Studio Ghibli adalah studio anime yang terkenal dengan karya-karyanya yang ramah untuk segala usia. Studio Ghibli memiliki kualitas visual yang konsisten sejak merilis film pertamanya 'Castle in the Sky' pada 1986.

Banyak kisah yang diangkat dengan pesan-pesan membangun bagi para penonton. Beberapa cerita yang menguras emosi ini dikemas dengan balutan visual dengan nilai seni yang tinggi.

Berikut ini beberapa judul anime produksi Studio Ghibli yang dapat membuatmu menangis tersedu-sedu:

1. The Tale of Princess Kaguya

The Tale of Princess Kaguya yang dirilis pada 2013 ini diadaptasi dari dongeng rakyat Jepang 'Kisah Seorang Pemotong Bambu'. Anime ini mengisahkan tentang seorang gadis kecil yang ditemukan oleh sepasang suami istri di sebuah rumpun bambu di hutan.

Karena kecantikannya, kedua suami istri tersebut pun memberinya nama putri Kaguya. Momen emosional dalam anime ini mulai terjadi ketika Kaguya mengalami sesuatu hal dan secara tidak sadar ia memutuskan ingin kembali ke dunia asalnya, yakni bulan.

Hal itu pun otomatis membuat Kaguya harus rela meninggalkan kenangan bersama kedua orang tua angkatnya dan juga pria yang diam-diam mencintainya.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Grave of Fireflies

2. Grave of Fireflies

Berbicara tentang tontonan emosional, anime yang satu ini tak boleh dilewatkan. Sebelum menonton Grave of Fireflies, sebaiknya kamu menyiapkan banyak tisu.

Anime yang menyabet penghargaan Blue Ribbon Award 1989 dan Chicago International Children’s Film Festival untuk kategori Animation Jury Award dan Rights of the Child Award 1994 ini memiliki latar cerita di zaman perang. Singkatnya, anime ini mengisahkan dua orang kakak-beradik yang berjuang untuk hidup di tengah peperangan.

Seita, sang kakak, harus mencari cara untuk menghidupi adiknya, Setsuko, dan juga dirinya sendiri. Kamu juga bisa menikmati versi live action-nya yang diproduksi pada tahun 2015 yang dibuat sebagai peringatan 60 tahun berakhirnya perang dunia.

3. From Up on Poppy Hill

Film From Up on Poppy Hill pertama dirilis pada 16 Juni 2011 di bioskop Jepang. Penayangan perdananya menempatkan anime ini di posisi ketiga setelah Harry Potter and The Deathly Hallow Part 2 dan dua film Pokemon.

Latar cerita dari film ini berputar di sekitar masa perang Korea. Pada masa itu, banyak penduduk Jepang yang dipaksa untuk mengantarkan perbekalan dan pasukan Amerika ke dalam medan perang.

Karakter utama dalam kisah ini adalah seorang gadis berumur 16 tahun, Umi, yang harus menjalani hidupnya bersama adik dan neneknya. Sementara ibunya bekerja di Amerika.

Konflik mulai muncul saat salah satu klub jurnalis di sekolahnya akan diruntuhkan. Bersama teman temannya, Umi berjuang untuk mempertahankan bangunan tersebut.

Di tengah keadaan ini, masa lalu Umi mulai terungkap mengenai ayahnya yang telah meninggal. Berbagai masalah yang ditampilkan dalam film ini terasa mewakili kehidupan nyata masyarakat Jepang.

 

3 dari 3 halaman

Only Yesterday

4. Only Yesterday

Omoide Poroporo atau Only Yesterday adalah film animasi yang diangkat dari manga dengan judul yang sama. Berbeda dengan anime lainnya, film ini lebih menargetkan penonton dewasa, khususnya wanita.

Jalan cerita dalam film ini mungkin mirip dengan kebanyakan film saat ini. Sebuah perjalanan seorang wanita berumur 27 tahun yang mengenang masa masa sekolahnya dulu. Namun, jalan cerita yang diracik dengan sangat apik membuat kamu seolah masuk ke dalam ceritanya.

5. The Wind Rises

Film yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki ini pertama tayang pada 20 Juli 2013 di Jepang dan 21 Februari 2014 di Amerika Utara. Film ini mengisahkan tentang seorang pria yang bercita-cita untuk membangun sebuah pesawat terbang.

Di tengah studinya dan perjalanannya mendalami tentang pesawat terbang, ia bertemu dengan seorang gadis yang kelak akan dia lamar untuk menjadi istrinya. Namun, semuanya tidak berjalan dengan lancar.

Banyak yang mengatakan kalau kisah dalam anime ini mirip dengan kisah 'Habibi dan Ainun'. Sudah terbayang, kan, bagaimana sedihnya?

6. When Marnie was There

When Marnie was There menceritakan tentang seorang anak gadis 12 tahun yang penyendiri dan menderita penyakit asma, Anna Sasaki. Sebagai terapi, Dokter merekomendasikan Anna untuk pergi ke suatu tempat yang memiliki udara bersih agar penyakitnya tidak semakin parah.

Mendengar rekomendasi tersebut, ibu angkat Anna, Yoriko, memutuskan untuk sejenak menitipkan Anna pada kerabatnya di sebuah Desa yang memiliki udara bersih dan suasana yang tenang. Setelah berada di sana, ia diperkenalkan dengan Kadoya, yang merupakan anak seusianya.

Karena terbiasa menyendiri, Anna menolak pertemanan tersebut dengan memaki Kadoya hingga menangis. Berada di tengah kesendiriannya dan perasaan asing terhadap ibu angkat yang saat itu masih ia panggil 'Bibi', Anna menemukan sebuah rumah kosong bergaya Eropa di tepi danau yang indah.

Di sanalah Anna bertemu dengan Marnie. Anna dan Marnie merasa saling terikat meski tidak pernah bertemu sebelumnya. Setelah saling mengisi dan saling berbagi cerita, akhirnya Anna menemukan fakta yang mengejutkan tentang Marnie.

(Resla Aknaita Chak)